SMAN 3 Bandar Lampung Gelar Pentas Seni Tahunan di Taman Budaya Lampung

PENDIDIKAN789 Dilihat

FOTO: ISTIMEWA


WARNALAMPUNG.ID — SMAN 3 Bandar Lampung kembali menggelar agenda tahunan Pentas Seni (Pensi) sebagai wadah unjuk kreativitas dan ruang ekspresi seni bagi peserta didik. Kegiatan tersebut berlangsung di Taman Budaya Lampung, pada Selasa 13 Januari 2026, dan diikuti oleh seluruh siswa kelas XII. Pentas seni ini menjadi momentum penting bagi siswa untuk menampilkan bakat seni yang telah diasah selama masa pendidikan, sekaligus sebagai penutup perjalanan mereka di bangku SMA.

Libatkan 10 Kelas dengan Beragam Karya Seni

‎Pentas Seni SMAN 3 Bandar Lampung tahun ini melibatkan 10 kelas, mulai dari XII-1 hingga XII-10. Beragam karya seni ditampilkan, mulai dari seni peran, seni suara, seni tari, seni musik, hingga seni rupa.

‎Setiap penampilan disuguhkan secara totalitas, mencerminkan proses latihan panjang serta semangat kolaborasi antarsiswa. Kreativitas dan kekompakan terlihat jelas di setiap pementasan yang ditampilkan di atas panggung.

‎Sejumlah pementasan berhasil mencuri perhatian penonton, di antaranya drama tradisi (Dracin) berjudul Lahirnya Dewi Rembulan, pertunjukan Aladin, serta berbagai karya seni lain yang dikemas secara kreatif dan atraktif.

‎Pementasan Dracin Lahirnya Dewi Rembulan menjadi salah satu penampilan yang paling mendapat sambutan meriah. Pertunjukan tersebut dinilai mampu memadukan alur cerita, akting, tata artistik, serta penghayatan peran secara matang, sehingga memukau penonton yang memadati gedung pertunjukan.

‎‎Kepala Sekolah Apresiasi Dedikasi dan Disiplin Siswa

‎Kepala SMAN 3 Bandar Lampung, Tri Winarsih, S.Pd., M.Pd., mengaku bangga atas dedikasi dan kerja keras para siswa dalam menyukseskan kegiatan pentas seni tersebut.

‎“Pentas seni ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan potensi seni yang mereka miliki. Kami sangat bangga melihat antusiasme, kedisiplinan, serta semangat mereka dalam berkarya dan bekerja sama,” ujar Tri Winarsih dalam sambutannya.

‎Ia menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak jauh hari dan dirancang tanpa mengganggu proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah.

‎“Latihan dilakukan secara terjadwal sehingga tidak mengganggu KBM. Justru kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran karakter dan kreativitas siswa,” jelasnya.

‎Lebih lanjut, Tri Winarsih menyebutkan bahwa pentas seni tidak hanya berorientasi pada pertunjukan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran manajemen acara bagi siswa yang terlibat dalam kepanitiaan.

‎“Anak-anak belajar mengelola kegiatan, bekerja dalam tim, mengatur waktu, hingga bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Ini bekal penting bagi mereka sebelum lulus,” tambahnya.

Dihadiri Wali Murid dan Tamu Undangan

‎Kegiatan pentas seni tersebut turut dihadiri oleh wali murid siswa kelas XII tahun ajaran 2025/2026, para guru, serta tamu undangan lainnya. Kehadiran orang tua memberikan dukungan moral sekaligus apresiasi terhadap hasil karya putra-putri mereka.Respons penonton pun sangat positif. Tepuk tangan panjang mengiringi hampir setiap penampilan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras para siswa.

‎“Respons penonton sangat luar biasa. Banyak yang memberikan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi terhadap penampilan siswa,” ungkap Tri Winarsih.

‎Salah satu penari, Arsy, mengaku bangga dapat terlibat dalam pementasan meski harus menjalani latihan intensif.

‎“Kami latihan cukup lama dan melelahkan, tapi semuanya terbayar saat tampil di panggung dan mendapat apresiasi dari penonton. Ini pengalaman yang tidak akan kami lupakan,” ujarnya.

‎Hal senada juga disampaikan Mei Mei, penari lainnya, yang menilai pentas seni menjadi momentum penting untuk melatih kepercayaan diri.

‎‎“Awalnya sempat gugup, tapi setelah tampil rasa percaya diri kami meningkat. Pentas seni ini mengajarkan kami untuk berani tampil, bekerja sama, dan menghargai proses,” katanya.

Harapan Sekolah: Pembentukan Karakter Kreatif dan Berbudaya

‎Melalui kegiatan pentas seni ini, pihak sekolah berharap siswa dapat terus mengembangkan minat dan bakat seni mereka, serta menjadikan pengalaman tersebut sebagai kenangan dan pembelajaran berharga menjelang kelulusan.

‎“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa yang kreatif, percaya diri, dan berbudaya,” pungkas Tri Winarsih.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *