Isu Kekurangan Daging Sapi Dibantah, Pemprov Lampung Ungkap Data Surplus

PEMPROV LAMPUNG585 Dilihat

FOTO: ISTIMEWA


WARNALAMPUNG.ID — Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan bahwa ketersediaan daging sapi dan kerbau di wilayah Lampung sepanjang Tahun 2025 berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Klarifikasi ini disampaikan menyusul beredarnya berbagai isu serta perbedaan angka neraca supply–demand daging sapi di ruang publik.

Disnakkeswan Tegaskan Lampung Surplus Daging

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung, Ir. Lili Mawarti, M.Si., IPU, menjelaskan bahwa berdasarkan kajian teknis Disnakkeswan, neraca supply–demand daging sapi dan kerbau Lampung justru menunjukkan surplus sebesar 3.955 ton pada Tahun 2025.

“Perlu dipahami bahwa perhitungan supply tidak hanya berasal dari produksi daging dalam provinsi, tetapi juga harus memasukkan stok awal serta pemasukan ternak dan daging dari luar daerah,” ujar Lili Mawarti.

Ia menyebutkan, perbedaan angka yang muncul dalam sejumlah publikasi disebabkan oleh perbedaan metodologi penghitungan. Dalam publikasi Peternakan dalam Angka 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), supply dihitung hanya dari produksi daging sapi dan kerbau dalam provinsi sebesar 18.523 ton, tanpa memasukkan stok awal maupun arus lalu lintas ternak dan daging antarprovinsi serta impor.

Lampung Jadi Sentra dan Penyangga Pasokan Nasional

Secara faktual, Lampung merupakan daerah sentra ternak sekaligus penyangga pasokan nasional. Berdasarkan data lalu lintas ternak pada sistem ISIKHNAS, sepanjang Tahun 2025 Lampung menerima pemasukan 162.911 ekor sapi dan kerbau, termasuk 159.117 ekor sapi impor. Pada saat yang sama, Lampung juga mengeluarkan 298.642 ekor ternak ke luar daerah.

“Kondisi ini menunjukkan dinamika lalu lintas ternak yang sehat dan pasokan yang tetap terkendali,” jelas Lili.

Harga Stabil, Daging Sapi Tak Picu Inflasi

Stabilitas pasokan tersebut tercermin langsung dari pergerakan harga di pasaran. Berdasarkan Berita Resmi Statistik Tahun 2025, komoditas daging sapi tidak memberikan andil inflasi tahunan (year-on-year) di Provinsi Lampung. Bahkan, daging sapi tercatat mengalami deflasi sebesar 0,01 persen pada April dan Desember 2025.

“Ini membuktikan bahwa sepanjang tahun, termasuk pada momen krusial seperti Ramadhan dan Idul Fitri, pasokan daging sapi di Lampung berada dalam kondisi cukup dan terkendali,” tegasnya.

Di sisi lain, Pemprov Lampung mencatat tren peningkatan populasi ternak sepanjang Tahun 2025. Data Disnakkeswan menunjukkan populasi sapi potong mencapai 905.322 ekor, kambing 1.974.609 ekor, ayam ras pedaging 94.814.874 ekor, serta ayam ras petelur 14.850.524 ekor.

Capaian ini memperkuat posisi Lampung sebagai provinsi dengan populasi sapi tertinggi di Pulau Sumatera, sekaligus mendukung agenda nasional swasembada protein hewani.

Dalam keterbatasan anggaran, Pemprov Lampung tetap memprioritaskan bantuan yang berdampak langsung kepada peternak rakyat. Sepanjang Tahun 2025, pemerintah menyalurkan 640 ekor kambing Rambon, 2.000 ekor ayam petelur, dan 2.200 ekor itik lokal kepada kelompok tani di sejumlah kabupaten, lengkap dengan pakan konsentrat.

Selain itu, Disnakkeswan juga menyalurkan 32 unit mesin tetas telur kepada kelompok tani. Melalui dukungan Kementerian Pertanian RI, Lampung turut menerima 37.200 ekor Ayam Merah Putih lengkap dengan pakan, kandang, obat-obatan, dan vitamin.

Efisiensi Anggaran, Prestasi Tetap Diraih

Terkait pengelolaan anggaran, Lili menepis anggapan adanya pemborosan. Ia menegaskan seluruh program peternakan Tahun Anggaran 2025 dijalankan secara efisien dan akuntabel.

“Tidak ada rapat di hotel mewah, tidak ada studi banding. Seluruh rapat dilakukan di Aula Disnakkeswan atau secara daring, dengan perjalanan dinas yang sangat terbatas,” tegasnya.

Meski demikian, kinerja tetap berprestasi. Lampung berhasil meraih peringkat kedua nasional capaian vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dengan realisasi 379.791 dosis atau 99,8 persen dari alokasi. Lampung juga menjadi provinsi dengan realisasi anggaran operasional vaksinasi tercepat di zona pemberantasan, dan memperoleh penghargaan resmi dari Kementerian Pertanian RI.

Stabilisasi Pakan dan Harga Pangan

Keberhasilan menjaga stabilitas harga daging sapi tidak membuat Pemprov Lampung berpuas diri. Pemerintah kini melakukan pemutakhiran data peternak sebagai calon penerima manfaat Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) dalam Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung.

Program ini diharapkan mampu menekan biaya pakan, menjaga harga telur dan ayam di tingkat konsumen, serta melindungi peternak rakyat dari gejolak harga.

Menghadapi Tahun 2026, Pemprov Lampung akan memfokuskan kebijakan pada penguatan sektor hulu, terutama dukungan pakan, kesehatan hewan, dan pembibitan. Selain melanjutkan SPHP Jagung, pemerintah juga akan memperkuat penyediaan pakan ternak unggul melalui inovasi rumput Pakchong varietas Tansa, yang telah ditetapkan secara nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian RI pada 2 Januari 2026.

“Pembangunan peternakan bukan sekadar angka statistik, tetapi menyangkut stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Lili.

Komitmen Jangka Panjang Pembangunan Peternakan

Pembangunan sektor peternakan di Lampung dilaksanakan sesuai kewenangan regulasi, mulai dari penyediaan sarana, pengendalian kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, perizinan usaha, hingga penyuluhan. Sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota menjadi kunci keberhasilan pembangunan peternakan berkelanjutan.

Sepanjang Tahun 2025, indikator kinerja utama sektor peternakan Lampung menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan produksi ternak 5,85 persen dan peningkatan produksi olahan peternakan 3 persen.

“Komitmen kami jelas, Lampung tidak hanya kuat sebagai lumbung pangan nasional di atas kertas, tetapi juga kokoh secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat peternak,” pungkas Lili Mawarti.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *