Merajut Benang Emas di Tengah Tugas Negara: Perjalanan Asri Bangkitkan Tapis Lampung

Jumat, 10 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: ISTIMEWA


WARNALAMPUNG.ID — Di balik seragam putihnya sebagai bidan, Asri menyimpan ketekunan lain yang tak kalah mulia. Di sela tugasnya melayani masyarakat di puskesmas, ia merajut mimpi melalui helai-helai benang emas yang menghiasi kain tradisional khas Lampung, tapis.

‎‎Asri adalah istri dari Kopda Angga Dwi Ferdian, prajurit yang berdinas di Yonif 143/TWEJ Kodam XXI/Radin Inten. Ia juga ibu dari dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

‎‎Di tengah perannya sebagai tenaga kesehatan dan pendamping suami, Asri memilih untuk tetap produktif dari rumah. Bagi dirinya, berkarya bukan sekadar pilihan, melainkan panggilan.

‎‎Tahun 2023 menjadi titik balik ketika ia memutuskan meneruskan usaha sulam tapis milik orang tuanya yang telah dirintis sejak 1992. Seiring bertambahnya usia, orang tua Asri ingin beristirahat dari aktivitas produksi.

‎‎Namun, semangat mereka tak padam. Nilai kemandirian dan kerja keras yang diwariskan justru menjadi bekal kuat bagi Asri untuk melanjutkan estafet usaha tersebut.

‎‎“Saya ingin tetap produktif dari rumah dan membantu perekonomian keluarga, tanpa meninggalkan peran sebagai ibu dan istri,” ujarnya, pada Rabu, 10 April 2026.

Baca Juga :  Pegadaian Area Lampung Perkuat Sinergi dengan Insan Pers Melalui Media Gathering 2026

Kain tapis dikenal sebagai warisan budaya Lampung yang sarat makna

‎‎Bagi masyarakat Lampung, tapis bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya yang sarat makna. Sulaman benang emas atau perak di atas kain tenun melambangkan doa, kehormatan, serta perjalanan hidup. Setiap motif menyimpan filosofi yang diwariskan turun-temurun.

‎‎Namun bagi Asri, menjaga tradisi tidak berarti menutup diri terhadap perubahan zaman. Melalui UMKM Asri Tapis Lampung, ia menghadirkan inovasi dengan memadukan batik dan sulaman benang emas khas tapis.

‎‎Jika dulu tapis identik dengan upacara adat dan acara formal, kini batik tapis rancangannya dapat dipakai dalam suasana nonformal tanpa kehilangan identitas Lampung.

‎‎Modal Nekat dan Dukungan Organisasi

‎‎Dukungan pun mengalir dari lingkungan organisasi. Ketua Daerah XXI/Radin Inten menyampaikan apresiasinya atas semangat yang ditunjukkan Asri.

‎‎“Kami sangat mengapresiasi kreativitas dan ketekunan Ibu Asri dalam mengembangkan tapis Lampung. Upaya ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ini menjadi contoh bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pegadaian Area Lampung Perkuat Sinergi dengan Insan Pers Melalui Media Gathering 2026

‎‎Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, Asri merintis usahanya secara bertahap. Ia belajar mengelola produksi, memahami strategi pemasaran, hingga mengatur keuangan usaha.

‎‎Tidak sedikit tantangan yang dihadapi, mulai dari menjaga kualitas hingga memperluas pasar. Hingga kini usahanya berkembang tergabung dalam Ajang Persit Bisa 2.

‎‎Memberdayakan dan Menginspirasi

‎‎Kini, Asri Tapis Lampung telah mempekerjakan tujuh orang karyawan. Usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

‎Bagi Asri, keberhasilan bukan semata diukur dari angka penjualan. Ia ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai tapis sebagai identitas budaya daerah. Ia ingin membuktikan bahwa kain tradisional tidak kalah elegan dibanding produk modern.

‎‎Dari ruang puskesmas hingga ruang produksi, dari peran sebagai istri prajurit hingga pelaku UMKM, Asri menunjukkan bahwa perempuan dapat berdiri di banyak peran sekaligus.

‎‎Di tangannya, tapis bukan hanya kain—melainkan cerita tentang ketekunan, keberanian, dan upaya menjaga jati diri Lampung di tengah arus zaman.(**)

Berita Terkait

SBBML Resmi Dideklarasikan, Tonggak Baru Perjuangan Buruh Bongkar Muat di Lampung
Simalakama Badai PHK dan Rahasia Dapur Aplikator: Mengintip Lapak Ojol Lampung yang Kian Sesak
Navara City Park Lampung Jadi Destinasi Favorit Wisata Keluarga
Festival KKN Unila di Karunia Indah Ramai, UMKM Lokal Diserbu Warga ‎
KNPI Provinsi Lampung Terima Penghargaan Kolaborasi pada Seminar Nasional “How To Be A Great” di Graha Adora
Wastra Lampung Mendunia, Rita Anomsari Sabet Penghargaan ASEAN Women Entrepreneurs 2025
Festival Bebay Butabuh 2025, Panggung Perempuan Lampung Lestarikan Budaya Daerah
Meski Diguyur Hujan, Tangan Lampung Berhasil Tanam 5.000 Mangrove di Pulau Pasaran
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 19:58 WIB

SBBML Resmi Dideklarasikan, Tonggak Baru Perjuangan Buruh Bongkar Muat di Lampung

Kamis, 25 Juni 2026 - 15:41 WIB

Simalakama Badai PHK dan Rahasia Dapur Aplikator: Mengintip Lapak Ojol Lampung yang Kian Sesak

Senin, 8 Juni 2026 - 11:05 WIB

Navara City Park Lampung Jadi Destinasi Favorit Wisata Keluarga

Jumat, 10 April 2026 - 07:30 WIB

Merajut Benang Emas di Tengah Tugas Negara: Perjalanan Asri Bangkitkan Tapis Lampung

Minggu, 1 Februari 2026 - 14:20 WIB

Festival KKN Unila di Karunia Indah Ramai, UMKM Lokal Diserbu Warga ‎

Berita Terbaru

PEMKOT BANDAR LAMPUNG

Sukseskan Program 3 juta rumah, Pemkot Bandar Lampung Kembali Raih Penghargaan

Kamis, 13 Agu 2026 - 08:44 WIB

DPRD Kota Bandar Lampung

‎H. Widodo: Semangat Kemerdekaan Harus Tumbuh di Kalangan Generasi Muda

Selasa, 11 Agu 2026 - 11:11 WIB

ORGANISASI

‎Nuraini Ditetapkan sebagai Ketua Harian Taring Lampung

Senin, 10 Agu 2026 - 20:49 WIB