FOTO: Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A.Temenggung (Dok.Warnalampung.id)
WARNALAMPUNG.ID – Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Sepanjang Tahun 2025 sebanyak 333 orang terdeteksi HIV melalui hasil skrining langsung. Angka tersebut merefleksikan pentingnya penguatan upaya deteksi dini, edukasi, serta peningkatan kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap isu kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, ,Muhtadi A. Temenggung, menjelaskan bahwa strategi pemeriksaan difokuskan pada kelompok dengan potensi risiko lebih tinggi. Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah preventif guna memastikan penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan.
“Kami memprioritaskan pemeriksaan kepada kelompok yang memiliki potensi risiko. Langkah utama yang kami dorong adalah peningkatan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan secara sukarela,” ujar Muhtadi usai menghadiri rapat bersama Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, pada Senin 23 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa pendekatan yang diterapkan bersifat persuasif dan berbasis edukasi, bukan represif. Pemerintah daerah mendorong kesadaran individu agar masyarakat memahami urgensi mengetahui status kesehatan sejak dini sebagai bagian dari tanggung jawab pribadi dan sosial.
Deteksi Dini sebagai Strategi Preventif
Dari total 333 orang yang teridentifikasi, hampir 70 persen didominasi kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL). Namun demikian, Muhtadi menegaskan bahwa persentase tersebut tidak secara otomatis mencerminkan lonjakan kasus.
Menurutnya, kelompok tersebut relatif memiliki tingkat kesadaran skrining yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Semakin aktif suatu kelompok melakukan pemeriksaan, maka potensi kasus terdeteksi juga menjadi lebih besar.
Ia juga menambahkan bahwa data yang disampaikan merupakan hasil pemeriksaan langsung (skrining aktif), bukan sekadar estimasi epidemiologis.
Pendekatan berbasis skrining aktif dinilai sebagai langkah strategis dalam pengendalian HIV. Melalui deteksi dini, individu yang terdiagnosis dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV), sehingga kualitas hidup tetap terjaga serta risiko penularan dapat ditekan secara signifikan.
Tantangan Stigma dan Pentingnya Kolaborasi
Selain aspek medis, isu HIV juga berkaitan erat dengan tantangan sosial, khususnya stigma dan diskriminasi yang masih berkembang di tengah masyarakat. Kondisi tersebut kerap menjadi hambatan bagi individu untuk melakukan pemeriksaan secara terbuka.
Muhtadi menekankan bahwa penanganan HIV bukan semata tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran media, tokoh masyarakat, institusi pendidikan, serta dukungan keluarga.
“Permasalahan ini memerlukan pendekatan bersama. Edukasi yang berkelanjutan sangat penting agar masyarakat memahami bahwa HIV dapat dikendalikan melalui pengobatan teratur dan tidak menular melalui interaksi sosial biasa,” tegasnya.
Penguatan skrining yang dilakukan diharapkan tidak hanya meningkatkan angka temuan kasus secara akurat, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pemeriksaan dini dan pengobatan berkelanjutan.(Agoy)












