FOTO: Kolase (Dok Warnalampung.id)
WARNALAMPUNG.ID – Dunia pendidikan di Bandar Lampung kembali tercoreng. Seorang siswa kelas 7 SMPN 44 Bandar Lampung berinisial V harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka tusuk akibat aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh sesama pelajar kelas 7 berinisial A, pada Senin, 25 Mei 2026.
Peristiwa berdarah itu terjadi di sebuah gang dekat rumah korban yang berada tidak jauh dari lingkungan sekolah. Ironisnya, kejadian berlangsung saat para siswa baru saja pulang usai mengikuti ujian kenaikan kelas sekitar pukul 11.30 WIB.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami beberapa luka tusukan dan langsung dilarikan ke RSUD Abdul Moeloek untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Sementara itu, pelaku diketahui telah diamankan di Polsek Sukarame guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan warga dan sejumlah siswa, pelaku diduga telah membawa senjata tajam sebelum insiden terjadi.
“Anak-anak yang ada di lokasi bilang pelaku memang sudah bawa pisau dari awal. Diselipkan di belakang badan. Kalau terkait dibawa dari dalam sekolah atau tidak saya kurang paham,” ujar seorang warga.
Keterangan tersebut memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat mengenai lemahnya pengawasan terhadap barang bawaan siswa.
Warga menduga pihak sekolah lalai melakukan kontrol terhadap potensi benda berbahaya yang dibawa pelajar ke lingkungan pendidikan.
Sejumlah siswa bahkan mengaku pemeriksaan tas maupun razia barang bawaan sudah lama tidak dilakukan.
“Sudah lama tidak ada razia tas. Yang sering cuma razia rambut,” ungkap warga menirukan pengakuan para siswa.
Di sisi lain, Sandy, satpam sekolah, menyebut berdasarkan cerita dari sejumlah siswa, pelaku disebut kerap menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah.
“Menurut cerita kawan-kawannya, pelaku ini sering dibully. Bahkan sempat beberapa hari tidak masuk sekolah,” ujar Sandy.
Pernyataan tersebut menambah dugaan adanya persoalan sosial di lingkungan pergaulan siswa yang luput dari perhatian pihak sekolah. Meski demikian, dugaan perundungan itu masih sebatas keterangan awal dan belum mendapat penjelasan resmi dari pihak sekolah maupun kepolisian.
Kondisi ini dinilai menunjukkan pengawasan sekolah tidak hanya lemah dari sisi keamanan, tetapi juga dalam mendeteksi persoalan psikologis dan konflik antarsiswa sejak dini. Padahal, tindakan pencegahan dinilai penting untuk menghindari ledakan emosi yang berujung kekerasan.
Peristiwa penusukan antar pelajar ini pun menambah daftar panjang kasus kekerasan di dunia pendidikan yang memicu keprihatinan publik.
Masyarakat mendesak pihak sekolah agar tidak hanya fokus pada penanganan pascakejadian, tetapi juga segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, pengawasan siswa, hingga penanganan kasus perundungan di lingkungan sekolah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi. Awak media diketahui telah mencoba menghubungi Kepala Sekolah SMPN 44, Hj. Udina, S.Pd., M.M., untuk meminta konfirmasi, namun belum mendapat tanggapan. (*)













