Ketika Perempuan Berkumpul untuk Saling Menguatkan: Cerita Haru dari Aksi 16 HAKTP

Kamis, 4 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ISTIMEWA


WARNALAMPUNG.ID – Cerita luka, harapan, dan tuntutan keadilan mengemuka di Tugu Adipura saat puluhan peserta dari berbagai kalangan berkumpul dalam Aksi 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP), pada Kamis 4 Desember 2025.

Aksi yang diinisiasi Solidaritas Perempuan Sebay Lampung ini mempertemukan suara petani, mahasiswa, pendamping korban, hingga lembaga bantuan hukum yang membawa pengalaman hidup serta keresahan yang selama ini sering tidak terdengar.

Suara Petani dari Sidodadi, Ketidakadlilan Upah dan Beban Ganda

Di antara kerumunan, seorang perempuan petani dari Sidodadi bercerita tentang ketimpangan yang ia hadapi sehari-hari. Namanya Kasinem, berusia 59 tahun, dan sejak lama bekerja di kebun bersama suaminya di desanya. Meski beban kerja sama beratnya, upah yang diterima perempuan tidak pernah setara.

“Laki-laki dibayar seratus sepuluh ribu. Perempuan cuma lima puluh sampai enam puluh ribu. Kerjanya sama tetapi upah tidak sama,” ujarnya.

Kasinem menuturkan bahwa selepas bekerja di kebun, pekerjaan rumah tetap dikerjakan olehnya. Situasi makin berat ketika bibit bantuan pemerintah tidak tumbuh, membuat mereka harus membeli sendiri. Hasil jual panen pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, sementara bantuan sosial tidak pernah mereka terima.

Baca Juga :  Soal Dugaan Permintaan Uang Rp25 Juta di Lima Kelurahan, Kepala BKPSDM Zulkifli Tidak Merespon ‎

“Beras tidak dapat, uang tidak dapat,” katanya lirih.

Kekerasan Seksual yang Terus Berulang

Dari sisi pendampingan, pengalaman berbeda muncul. Ismi Malihatun dari Kalyanamitra menggambarkan bagaimana perempuan dan anak korban kekerasan seksual kerap berhadapan dengan proses hukum yang lambat dan tidak berpihak. Banyak kasus yang mandek ketika pelaku memiliki relasi kuasa tinggi.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang tidak memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual dan dampaknya, sehingga kasus sering dinormalisasi. Ia menyinggung kasus terbaru yang melibatkan tenaga pendidik sebagai pelaku, situasi yang disebutnya sebagai bukti lemahnya perlindungan terhadap anak.

Ia berharap pembangunan desa dan layanan publik ke depan benar-benar responsif gender agar korban tidak lagi dipinggirkan oleh sistem.

Selain mendampingi korban, Ismiyanti menjelaskan bahwa Kalyanamitra juga mendorong pemerintah desa memahami perspektif gender dalam pembangunan.

“Karena kan kita menciptakan pembangunan desa yang responsif gender yang berperspektif gender juga, bukan hanya untuk kelompok perempuan dan masyarakatnya, tapi juga aparatur desanya memahami apa itu perspektif gender. Supaya semuanya terlayani,” ujar Ismiyanti.

Baca Juga :  Kecolongan, Perluasan Jaringan Fiber Optik di Garuntang Digarap Tengah Malam, Warga Minta Penindakan Tegas

Seruan Kolektif dari Solidaritas Perempuan Sebay Lampung

Dibagian akhir aksi, Amnesty Amalia Utami dari Solidaritas Perempuan Sebay Lampung mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari struktur sosial dan kebijakan negara yang belum berpihak.

“Setiap tahun kita bersuara, tapi kekerasan tidak berhenti. Itu artinya negara belum benar-benar hadir untuk melindungi perempuan. Banyak yang mengalami kekerasan bahkan di ruang yang seharusnya aman,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa ketidakadilan makin terasa ketika perempuan harus berhadapan dengan kebijakan yang tidak sensitif gender, mulai dari agraria, pekerja migran, hingga layanan bagi krban kekerasan seksual. “Perempuan kehilangan tanahnya, kehilangan tubuhnya, kehilangan rasa aman. Selama kebijakannya timpang, kekerasan akan terus terjadi,” kata Amalia.

Jaringan organisasi masyarakat sipil menuntut penghentian represivitas aparat, pencabutan Omnibus Law, perbaikan layanan bagi korban kekerasan seksual, perlindungan terhadap pekerja migran, serta pengakuan terhadap kerja-kerja perempuan petani dan nelayan. Mereka juga mendesak pemerintah menetapkan bencana banjir dan longsor Sumatra sebagai bencana nasional.(***)

Berita Terkait

Soal Dugaan Permintaan Uang Rp25 Juta di Lima Kelurahan, Kepala BKPSDM Zulkifli Tidak Merespon ‎
Taring Dukung Evaluasi Tim Media Gubernur Usai Dugaan Penghalangan Jurnalis
Dua Keluarga Siswa SDN 2 Way Dadi Sepakat Berdamai, Sekolah Fokus Pulihkan Kondisi MRP
Dituding Gelapkan Mobil Rental Rp1,16 Miliar, Yunika Angkat Bicara
Kecolongan, Perluasan Jaringan Fiber Optik di Garuntang Digarap Tengah Malam, Warga Minta Penindakan Tegas
Pengadaan Rp35,1 Miliar RSUD Dadi Tjokrodipo Dipertanyakan, Dari Satu Paket Jadi Puluhan Transaksi
‎Ratusan Pelajar se-Lampung Adu Ketangkasan PMR, Rebut Piala Bergilir Wali Kota Eva Dwiana
UIN RIL Beri Hak Jawab soal Dugaan Kekerasan terhadap Dua Wartawan di Proyek Gapura
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:35 WIB

Soal Dugaan Permintaan Uang Rp25 Juta di Lima Kelurahan, Kepala BKPSDM Zulkifli Tidak Merespon ‎

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Taring Dukung Evaluasi Tim Media Gubernur Usai Dugaan Penghalangan Jurnalis

Selasa, 29 September 2026 - 16:50 WIB

Dua Keluarga Siswa SDN 2 Way Dadi Sepakat Berdamai, Sekolah Fokus Pulihkan Kondisi MRP

Sabtu, 19 September 2026 - 20:11 WIB

Dituding Gelapkan Mobil Rental Rp1,16 Miliar, Yunika Angkat Bicara

Senin, 14 September 2026 - 13:28 WIB

Kecolongan, Perluasan Jaringan Fiber Optik di Garuntang Digarap Tengah Malam, Warga Minta Penindakan Tegas

Berita Terbaru