FOTO: ISTIMEWA
WARNALAMPUNG.ID — Anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yuni Karnelis, S.T.P., menggelar kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Bakung, Kecamatan Teluk Betung Barat, Jumat (20/2/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema Peran Keluarga dalam Menguatkan Nilai-Nilai Pancasila di Bulan Ramadhan.
Dalam paparannya, Yuni Karnelis menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum peningkatan spiritualitas, tetapi juga waktu yang sangat relevan untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keluarga. Menurutnya, rumah merupakan tempat pertama dan utama bagi anak-anak belajar tentang agama, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial.
“Ramadhan menghadirkan suasana yang sangat kondusif untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa. Dari keluarga, karakter anak bangsa dibentuk,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui ibadah puasa, keluarga dapat menanamkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila 1) dengan membiasakan shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, serta doa bersama. Ketika keluarga berbagi takjil dan bersedekah kepada sesama, nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sila 2) dihidupkan dalam praktik nyata.
Kebersamaan saat sahur dan berbuka puasa juga menjadi momentum memperkuat Persatuan Indonesia (Sila 3). Diskusi ringan mengenai target ibadah selama Ramadhan dapat melatih budaya musyawarah dalam keluarga sebagai implementasi Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Sila 4). Sementara sikap sederhana dan tidak berlebihan saat berbuka mencerminkan nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sila 5).
Keluarga sebagai Pondasi Karakter
Dalam kesempatan itu, Yuni turut menekankan pentingnya peran keluarga dalam menyikapi Ramadhan secara bijak dan penuh keteladanan.
1. Keluarga sebagai Teladan Ibadah
Anak-anak belajar bukan semata dari teori, melainkan dari contoh nyata. Ketika orang tua menunjukkan semangat bangun sahur, menjaga konsistensi tilawah, serta menciptakan suasana rumah yang religius, anak akan meniru tanpa harus diperintah.
2. Ramadhan Melatih Karakter Keluarga
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, kedisiplinan, pengendalian emosi, serta kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang tangguh dan berakhlak.
3. Ramadhan Menguatkan Ikatan Keluarga
Sahur bersama, berbuka bersama, hingga melaksanakan salat tarawih berjamaah bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan investasi kedekatan emosional. Ramadhan dapat menjadi momentum memperbaiki komunikasi keluarga, saling memaafkan, serta saling menguatkan dalam doa.
Melalui kegiatan PIP-WK ini, Yuni berharap masyarakat semakin menyadari bahwa penguatan ideologi Pancasila tidak selalu dimulai dari ruang-ruang formal, melainkan dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
“Ramadhan bukan hanya membentuk pribadi yang saleh secara spiritual, tetapi juga melahirkan generasi berkarakter Pancasila. Dan semua itu bermula dari keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak-anak bangsa,” pungkasnya.






