FOTO: ISTIMEWA
WARNALAMPUNG.ID – Perayaan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China di Beijing, pada Rabu 3 September 2025 lalu, menjadi sorotan global. Bukan hanya parade militer yang memamerkan kekuatan alutsista modern, tetapi juga kehadiran para pemimpin dunia yang menandai babak baru dalam dinamika geopolitik internasional. Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto tampil berdampingan di panggung kehormatan, memancarkan simbol kuat persatuan non-Barat.
Kehadiran empat tokoh ini mengirim pesan jelas kepada dunia: Tiongkok siap memantapkan diri sebagai poros alternatif dari dominasi Barat. Kedekatan Beijing dengan Moskow semakin terlihat solid, sementara Pyongyang mendapat panggung internasional yang jarang terjadi.
Bagi kawasan Indo-Pasifik, unjuk kekuatan militer China lewat parade raksasa ini juga menjadi pesan deterensi bagi Washington, Tokyo, dan Seoul. Isyaratnya sederhana: biaya eskalasi konflik di Taiwan atau Laut China Selatan akan semakin tinggi.
Hadirnya Presiden Prabowo di panggung kehormatan tidak bisa dipandang sekadar formalitas. Indonesia menunjukkan strategi “menjaga jarak yang seimbang” atau hedging: memperkuat hubungan ekonomi dengan Tiongkok sembari tetap menjaga kemitraan dengan Amerika Serikat dan Barat.
Langkah ini memberi keuntungan ganda. Di satu sisi, Indonesia bisa membuka peluang investasi baru, terutama dalam bidang infrastruktur, hilirisasi mineral, dan transisi energi. Namun di sisi lain, kedekatan berlebihan dengan Beijing juga berpotensi memicu sensitivitas mitra Barat.
Secara jangka pendek, pamer kekuatan ini bisa memicu risk premium geopolitik. Harga energi dan logam industri diprediksi terdorong naik, sementara pasar keuangan cenderung mencari perlindungan pada dolar AS dan emas. Narasi dedolarisasi kembali mencuat, meski penerapannya masih terbatas pada lingkaran kecil seperti Rusia dan Tiongkok.
Dalam jangka menengah, rantai pasok global berpotensi bergeser lebih cepat. Barat mempercepat strategi China+1, sementara Beijing mempererat kerja sama ekonomi dengan Rusia, Asia Tengah, dan negara-negara Global South melalui BRICS+ dan inisiatif lintas mata uang.
Bagi Indonesia, momen ini membuka peluang sekaligus ujian. Potensi menjadi hub baru rantai pasok Asia terbuka lebar, terutama di sektor industri hijau dan kendaraan listrik. Namun risiko sanksi sekunder dari keterkaitan dengan Rusia atau perusahaan yang terpapar sanksi Barat harus dikelola hati-hati.
Perayaan 80 tahun ini pada akhirnya bukan sekadar seremoni sejarah. Ia menjadi panggung simbolik yang menegaskan polarisasi dunia semakin nyata. Satu panggung Xi Jinping, Vladimir Putin, Kim Jong-un, dan Prabowo Subianto menunjukkan bahwa tatanan global tengah bergerak ke arah multipolar, di mana negara-negara non-Barat berusaha menegakkan tatanan ekonomi dan politik yang dianggap lebih adil dan seimbang.(**)

