Program MBG di Bandar Lampung Diduga Sebabkan Keracunan, Puluhan Siswa Terimbas

BANDAR LAMPUNG71 Dilihat

FOTO: Yayasan Asri Amanah Barokah


WARNALAMPUNG.ID – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menunjang kesehatan siswa di Bandar Lampung justru menimbulkan masalah. Sejumlah murid SMPN 31 Campang Raya dan SDN 2 Campang Raya diduga mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG, pada Kamis 28 Agustus 2025.

Gejala yang dialami siswa bervariasi, mulai dari mulas, mual, diare, pusing, hingga muntah-muntah. Kondisi ini memicu kekhawatiran orang tua dan desakan agar program MBG dihentikan sementara.

Seorang wali murid, Rudi Safei (45), menceritakan anaknya, Janes, siswa kelas 2 SMPN 31, mulai sakit perut saat Magrib setelah makan MBG di sekolah. “Anak saya mulas, mual, dan diare. Besoknya bahkan tidak bisa masuk sekolah, sudah tujuh kali BAB,” ujar Rudi, Sabtu (30/8/2025).

Rudi menambahkan, teman sekelas anaknya juga mengalami muntah-muntah. “Ada tiga orang di sini yang sama-sama sekolah dengan anak saya. Kalau anak saya yang di SDN 2 Campang Raya selamat, karena makanannya dibawa pulang dan tidak dimakan,” jelasnya.

Pihak penyelenggara MBG sendiri telah mengakui adanya masalah pada menu. Dalam pesan di grup WhatsApp orang tua murid, mereka meminta maaf dan menyebut ayam yang dibagikan pada hari itu tidak layak konsumsi. Mereka berjanji segera mengevaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Bandar Lampung, Mulyadi Syukri, membenarkan adanya dugaan keracunan. Ia menerima laporan dari kepala sekolah SMPN 31 tak lama setelah kejadian. “Banyak siswa tidak masuk sekolah karena gejala keracunan. Puskesmas sudah memberikan penanganan dan obat,” ujarnya.

Menurut Mulyadi, meski siswa SMP rata-rata diperbolehkan pulang, ada tiga murid SDN 2 Campang Raya yang sempat dirawat di RS Urip Sumoharjo sebelum akhirnya dipulangkan orang tuanya.

Diketahui, MBG baru berjalan dua hari di sekolah-sekolah tersebut. Layanan makan berasal dari dapur gizi milik Yayasan Asri Amanah Barokah, berlokasi di Jalan Pangeran Tirtayasa, Sukabumi.

“Sekolah hanya penerima manfaat. Anak-anak didik kami jadi korban. Kami sudah koordinasi dengan SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) dan menyerahkan sampel makanan ke BPOM. Sambil menunggu hasil uji, sebaiknya program ini dihentikan sementara,” tegas Mulyadi.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *