FOTO: ILUSTRASI
WARNALAMPUNG.ID – Hari ini, Provinsi Lampung berdiri di persimpangan sejarah. Jalan yang akan dipilih bukan hanya tentang sebuah aksi demonstrasi, melainkan tentang bagaimana hati kita bersama menentukan arah demokrasi.
Massa akan turun ke jalan, bukan untuk menebar ketakutan, melainkan untuk menyampaikan suara. Di antara mereka ada para petani yang resah, mahasiswa yang penuh semangat, ibu-ibu yang membawa doa, dan anak-anak muda yang percaya masa depan bisa lebih baik. Mereka semua membawa harapan bukan amarah.
Pertaruhan di Lampung bukan sekadar menjaga agar jalannya aksi tetap tenang. Tetapi adalah bagaimana menjaga wajah kemanusiaan, bahwa perbedaan pendapat bisa diungkapkan tanpa harus melukai. Bahwa demokrasi tidak harus identik dengan bentrokan, melainkan bisa hadir sebagai pesta gagasan yang damai.
Di sisi lain, aparat keamanan juga menanggung tanggung jawab moral yang besar. Tugas mereka bukan semata mengawal, tetapi memastikan bahwa rakyat yang bersuara merasa aman, dihormati, dan diperlakukan dengan adil. Sinergi antara rakyat dan aparat dan pemerintah akan menentukan bagaimana hari ini dikenang.
Provinsi Lampung punya kesempatan emas. Jika aksi ini berlangsung damai, Lampung akan menjadi cerita indah yang akan diceritakan ulang di banyak tempat, tentang bagaimana sebuah provinsi kecil di ujung Sumatera mampu menunjukkan kedewasaan demokrasi yang besar.
Hari ini, semua mata memang tertuju pada Provinsi Lampung. Tetapi yang sejatinya dipertaruhkan bukan hanya wajah politik, melainkan juga wajah kemanusiaan kita. Semoga yang lahir dari jalannnya aspirasi di Lampung hari ini adalah kesejukan, ketenangan, dan harapan.(Yoga)


