WARNALAMPUNG.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung meluncurkan Program Bank Sampah Sekolah sebagai upaya mengintegrasikan literasi keuangan dengan kepedulian lingkungan. Launching program ini berlangsung di SMAN 2 Bandar Lampung dan diikuti sekitar 200 peserta. Sebanyak lima sekolah ditetapkan sebagai pilot project perdana, yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 9, SMKN 1, dan SMKN 4 Bandar Lampung. Kamis 21 Agustus 2025 lalu.
Acara dihadiri Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Thomas Amirico, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, perbankan (BNI, BRI, BSI, Bank Mandiri, Bank Lampung), Rumah Inspirasi Sahabat Gajah, serta Forum CSR Lampung.
Dalam sambutannya, Kepala OJK Lampung Otto Fitriandy menegaskan program Bank Sampah Sekolah merupakan langkah nyata membentuk generasi muda yang cerdas secara akademik, melek keuangan, dan peduli lingkungan.
“Peluncuran program bank sampah ini bertepatan dengan peringatan Hari Indonesia Menabung (HIM). Kami ingin menanamkan kesadaran menabung sejak dini. Sampah yang dianggap tidak bernilai bisa menjadi tabungan bernilai ekonomi. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi laboratorium sederhana pembelajaran keuangan, kewirausahaan, sekaligus kedisiplinan,” ujar Otto.
Ia menambahkan, Bank Sampah Sekolah bukan hanya tempat mengumpulkan sampah, melainkan juga sarana pembelajaran perbankan, perencanaan keuangan, serta penerapan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle).
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengapresiasi program ini karena sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Dengan jumlah SMA, SMK, dan MA di Bandar Lampung mencapai 126 sekolah serta rata-rata timbulan sampah 31 ton per hari, Bank Sampah Sekolah diharapkan memberi kontribusi nyata menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menanamkan budaya pengelolaan sampah berkelanjutan.
Ke depan, OJK Lampung menargetkan perluasan program ke seluruh sekolah di kabupaten/kota se-Provinsi Lampung melalui sinergi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan komunitas. Dengan begitu, manfaat program tidak hanya pada peningkatan literasi keuangan dan jiwa kewirausahaan siswa, tetapi juga kepedulian sosial dan pelestarian lingkungan.(***)






